Tuesday, July 26, 2011

IRONCLAD


Genre : action
Sutradara : Jonathan English
Pemain : James Purefoy,Brian Cox,Derek Jacobi,Kate Mara,Paul Giamatti
Tanggal rilis : 4 Maret 2011
Durasi : 121 menit
Film ini bercerita tentang situasi di Inggris pada tahun 1215. Pada saat itu, Raja yang berkuasa di Inggris yaitu Raja John benar-benar memerintah dengan kejam dan sewenang-wenang.
Raja John memungut pajak yang sangat berat bagi rakyatnya dan siapa saja yang melawan akan dihukum tanpa proses peradilan. Lebih gila lagi, Raja John bisa bebas tidur dengan istri baron-baronnya (Baron adalah pejabat kerajaan setingkat Bupati).

Para Baron Inggris tentu saja tidak terima dengan kesewenang-wenangan Raja John kemudian memberontak dengan dibantu para Ksatria Templar.
Ksatria Templar atau Knights Templar adalah sebuah ordo militer Gereja Katolik pada Perang Salib yang anggotanya terdiri dari para bangsawan.
Sistem perang dan kedisiplinan ordo Ksatria Templar yang kuat inilah yang mengilhami terbentuknya pasukan elite atau pasukan khusus di masa sekarang, bahkan doktrin mereka diadopsi oleh Marinir Amerika yaitu “The First To Charge on Enemy and The Last To Retreat " (maju pertama untuk menyerang musuh dan terakhir untuk mundur).

Pemberontakan para Baron dan Ksatria Templar akhirnya berhasil melumpuhkan kekuatan militer Raja John sehingga  dengan disaksikan Paus, Raja John terpaksa menanda tangani Piagam Magna Carta yang isinya Raja John harus menghormati hak asasi rakyatnya dan tidak boleh lagi bertindak sewenang-wenang. Jadi intinya, kekuasaan Raja tidak lagi absolut karena dibatasi oleh hukum.

Pada awalnya Raja John taat pada piagam Magna Carta tetapi berapa bulan kemudian Raja John mengkhianati sendiri piagam yang sudah ditanda tanganinya itu. Raja John menyewa sekitar 1000 tentara bayaran dari Denmark kemudian menyerang para Baron yang dianggapnya telah memberontak.
Agresi militer Raja John berhasil karena beberapa Baron berhasil dikalahkan kemudian langsung dihukum mati.

Setelah menceritakan penyebab utama konflik di film ini, cerita kemudian beralih ke adegan lain yang menggambarkan 3 Ksatria Templar dan seorang Pastor yang baru saja pulang dari Perang Salib tapi terjebak hujan lebat sehingga terpaksa berteduh di kastil seorang baron bernama Baron Damian.
Celakanya, Baron Damian termasuk dalam daftar Baron yang diburu oleh Raja John sehingga keesokan harinya Raja John dan pasukan tentara bayaran menyerbu Kastil Baron Damian dan berhasil mengalahkan pasukan Baron Damian.
Baron Damian sendiri tertangkap dan siap digantung.

Tiga Ksatria Templar dan seorang Pastor yang sudah diberi tempat berteduh oleh Baron Damian berusaha menolong Baron Damian tetapi sehebat-hebatnya keahlian perang 3 Ksatria Templar tentu saja tidak bisa mengimbangi ratusan tentara Raja John. Dua Ksatria Templar tewas dan Sang Pastor dipotong lidahnya.
Untung seorang Ksatria Templar yang bernama Thomas Marshall berhasil melarikan diri dengan membawa Pastor yang lidahnya sudah terpotong tetapi akhirnya Pastor itu tewas karena kehabisan darah.

Thomas Marshall sang Ksatria Templar tentu saja marah dengan kekejian Raja John kemudian melaporkannya kepada Uskup atasannya yaitu Uskup Langton.
Uskup Langton mendukung rencana Thomas Marshall untuk melawan Raja John dan ada satu Baron yang juga mendukung yaitu Baron Albany.
Thomas Marshall dan Baron Albany kemudian mengumpulkan orang-orang untuk membantu perjuangan mereka yaitu Beckett si jago perang tapi playboy, Coteral yang badannya paling besar dan paling sangar tapi lucu, Marks yang ahli panah, dan Guy si tentara muda yang belum punya pengalaman membunuh orang apalagi berperang

Thomas Marshall dengan hanya dibantu 5 orang tentu saja tidak mungkin bisa menghadapi Raja John dan pasukannya maka disusun rencana yaitu Uskup Langton akan minta bantuan pada tentara Prancis kemudian sambil menunggu bantuan dari tentara Prancis, Thomas Marshal dan Baron Albany bersama 3 temannya akan menahan Pasukan Raja john di sebuah kastil yang akan menjadi sasaran agresi militer Raja John yaitu Kastil Rochester.

Keesokan harinya Thomas Marshall dan kawan-kawan berhasil sampai di Kastil Rochester lebih dulu daripada Raja John. Setelah melalui pertempuran kecil, Thomas Marshall dan kawan-kawan berhasil memaksa pemilik Kastil Rochester yaitu Baron Cornhill untuk mau bekerja sama melawan Pasukan Raja john.
Benar-benar suatu keberanian yang mengagumkan, Thomas Marshal dan kawan-kawan dengan hanya dibantu sekitar 20 tentara Kastil Rochester akan melawan pasukan Raja John yang berjumlah ratusan.
Tapi itulah Ordo Ksatria Templar, mereka memang sudah dilatih untuk tidak gentar menghadapi musuh yang lebih banyak dan lebih kuat.

Akhirnya datang juga serangan pertama dari Pasukan Raja John. Walaupun hanya berjumlah 20, tetapi dengan strategi yang jitu pasukan Thomas Marshall berhasil memukul mundur Pasukan Raja John yang berjumlah ratusan.

Datang lagi serangan kedua dari Pasukan Raja John kali ini dengan senjata yang lebih canggih yaitu menara tempur dan ketapel raksasa. Walaupun Marks si pemanah ulung gugur, pasukan Thomas Marshall kembali berhasil memukul mundur pasukan Raja John.

Untuk sementara perang dihentikan karena datang musim dingin tetapi hal itu merupakan kerugian besar bagi pasukan Thomas Marshall karena mereka dikepung oleh pasukan Raja John sehingga tidak mendapat pasokan pangan dan kelaparan. Untung Thomas Marshall berhasil mencuri makanan Raja John sehingga ia dan pasukannya tidak mati kelaparan.

Rasanya kurang lengkap dan kurang asyik jika sebuah film tidak ada cerita romantisnya, demikian juga film ini, terjadi hubungan cinta antara Thomas Marshall dengan putri baron pemilik Kastil Rochester yaitu Isabel. Cinta itu sebenarnya adalah cinta terlarang karena sebagai Ksatria Templar, Thomas Marshall terikat kaul untuk tidak menikah atau menjalin hubungan cinta dengan wanita.

Pasukan Raja John akhirnya menemukan cara untuk menaklukkan Pasukan Thomas Marshall yaitu menyerang dengan diam-diam ketika Pasukan Thomas Marshall sedang beristirahat. Taktik itu berhasil, Pasukan Raja John berhasil menembus benteng Kastil Rochester.

Satu-persatu anak buah Thomas Marshall tewas bahkan Baron Albany tertangkap oleh Raja John dan dihukum mati dengan mengerikan. Hanya tinggal 6 orang yang masih bertahan hidup di dalam Kastil Rochester yaitu Thomas Marshall, Isabel. Beckett, Coteral, Baron Cornhill dan Guy.
Tetapi karena tidak tahan dengan situasi yang mencekam itu, Baron Cornhill bunuh diri.

Untuk mengalahkan Thomas Marshall yang berada di dalam kastil, pasukan Raja John membakar pondasi Kastil Rochester yang terbuat dari kayu sehingga Kastil Rochester akhirnya runtuh dan pasukan Raja John akhirnya bisa masuk.
Setelah bertarung habis-habisan akhirnya Beckett dan Coteral tewas sedangkan Thomas Marshall harus duel mati-matian dengan pemimpin tentara bayaran Raja John yaitu Kapten Tiberius.

Untung di saat yang sangat genting itu datang bantuan yang sangat berharga yaitu datang Uskup Langton dengan ribuan tentara Prancis.
Pasukan Raja John yang melihat ribuan tentara Prancis datang membantu Thomas Marshall apalagi pemimpinnya yaitu Kapten Tiberius bisa dibunuh Thomas Marshall akhirnya ketakutan dan melarikan diri.
Akhirnya runtuhlah kekuasaan Raja John si diktator yang kejam dan jabatan Raja Inggris untuk sementara dipegang oleh Pangeran Prancis.

Film ini diakhiri dengan adegan romantis yaitu karena Thomas Marshall sudah berjasa sangat besar bagi negara dan gereja maka Uskup Langton mengijinkan Thomas Marshall untuk mengundurkan diri dari Ordo Kstaria Templar sehingga bisa menjalin hubungan cinta dengan Lady Isabel.

Opini saya tentang film ini :
Film ini memang cukup menghibur karena penuh dengan adegan perang yang seru dan ceritanya juga tidak rumit. Tetapi ada hal yang membuat saya kurang sreg dengan film ini yaitu di film ini banyak adegan sadis seperti mutilasi yang ditampilkan dengan vulgar.

Tetapi ada point bagus dari film ini yaitu akting pemainnya yang cukup meyakinkan terutama pemeran Thomas Marshall (James Purefoy) yang bisa menampilkan kharisma dan kegagahan seorang Ksatria Templar.

Tuesday, July 19, 2011

KHELEIN HUM JEE JAAN SEY


Genre : drama,action
Sutradara : Ashutosh Gowariker
Pemain : Abhishek Bachchan,Deepika Padukone,Vishakha Singh,Sikandar Kher
Tanggal rilis : 03 Desember 2010
Durasi : 183 menit

Film India yang diangkat dari kisah nyata ini bercerita tentang perjuangan seorang pejuang kemerdekaan India bernama  Surjya Sen atau yang biasa dipanggil Masterda (guru) karena pekerjaannya sehari-hari adalah sebagai guru.

Pada waktu itu di tahun 1930, India masih dijajah Inggris dan para pejuang kemerdekaannya dalam berjuang memilih tidak memakai cara kekerasan atau Ahimsa sesuai dengan ajaran pemimpinnya yaitu Mahatma Gandhi.
Pada awalnya Surjya Sen yang tinggal di kota Chittagong bersama 5 teman seperjuangannya yaitu Ganesh , Lokenath , Ambika , Nirmal Sen dan Ananta Singh menuruti ajaran Ahimsa itu.Tetapi karena ajaran Ahimsa itu walaupun sudah dijalankan selama 1 tahun tetap tidak ada hasilnya yaitu penjajah Inggris tetap bercokol di India, bahkan semakin kuat maka Surjya Sen memutuskan untuk melakukan perjuangan dengan senjata atau revolusi.

Surjya Sen sang pemimpin revolusi merencanakan pada tanggal 18 April 1930 pada jam 9.50 malam akan menyerang secara serentak  5 tempat strategis di Chittagong yaitu :
  • Kantor Klub Eropa tempat banyak pejabat Inggris berkumpul sehingga pasukan Surjya Sen bisa menyandera mereka.
  • Gudang senjata tentara Inggris sehingga pasukan Surjya Sen bisa merampas senjata-senjata dan amunisinya.
  • Kantor Polisi Inggris agar para polisi Inggris tidak bisa membantu tentara Inggris.
  • Kantor Telegraf dengan tujuan agar tentara Inggris di kota Chittagong tidak bisa meminta bantuan dari kota lain.
  • Merusak rel kereta api Nangalkote agar bantuan tentara Inggris dari kota lain yang naik kereta api tidak bisa masuk ke kota Chittagong.

Tetapi Surjya Sen mendapat masalah besar yaitu untuk menyerang secara serentak di  5 tempat tentu saja butuh biaya besar, senjata lengkap dan banyak tentara.
Untungnya masalah-masalah itu bisa diatasi karena salah satu teman perjuangan Surjya Sen yaitu Ambika yang bekerja di kantor pemerintah Inggris bisa menggalang dana dari orang-orang India yang bersimpati pada perjuangan Surjya Sen sehingga bisa dipakai untuk membeli senjata walaupun sedikit.

Masalah jumlah personel juga bisa diatasi karena 50 murid laki-laki Surjya Sen yang walaupun masih berusia remaja mau ikut berjuang bertaruh nyawa untuk membela negaranya, ditambah lagi 16 remaja laki-laki yang sakit hati karena lapangan sepakbola tempat mereka bermain sepakbola direbut dengan semena-mena oleh tentara Inggris. Surjya Sen berpesan pada pasukan remajanya agar merahasiakan perjuangan mereka bahkan kepada orang tua mereka.
Kekuatan pasukan Surjya Sen juga bertambah 2 wanita yaitu Pritilata (pacar Nirmal) dan Kalpana (teman Pritilata).
Pasukan Surjya Sen siap bertempur dengan teriakan yang merupakan slogan mereka yaitu “VANDE MATARAM” (hidup tanah air).

Memang masih ada kendala besar yaitu terbatasnya senjata.Pasukan remaja Surjya Sen hanya punya 8 senjata yang dianggap paling canggih pada waktu itu yaitu 1 senapan 303 dan 7 pistol revolver, itupun dengan jumlah peluru yang terbatas.  Jadi yang tidak kebagian 8 senjata itu hanya mendapat senapan kuno yaitu senapan musket.

Senapan musket tentu saja bukan tandingan senapan 303 dan pistol revolver karena hanya bisa menembak sekali itupun pengisian kembali pelurunya makan waktu lama karena harus dibersihkan dulu. Tetapi pasukan Surjya Sen punya peluru senapan musket yang sangat banyak (peluru senapan musket memang berbeda dengan peluru senapan 303 dan pistol revolver yaitu berupa bola besi).
Kelemahan kekurangan senjata itu rencananya akan diatasi dengan menyerang gudang senjata inggris kemudian mengambil senapan-senapan 303 dan pistol-pistol revolvernya.
Upaya lain untuk menutupi kelemahan adalah menyiapkan serangan dengan matang yaitu yaitu berlatih perang dengan giat dan memata-matai target serangan sehingga bisa dibuat petanya.

Akhirnya tibalah tanggal 18 April 1930. Pada pukul 9 malam, Surjya Sen membagi pasukannya menjadi 5 kelompok yang akan menyerang target serangannya masing-masing sesuai rencana kemudian mereka berangkat dengan serentak.

Pada awalnya pasukan Surjya Sen sukses di 3 target yaitu mereka berhasil merebut kantor telegraf dan kantor polisi serta merusak rel kereta api tetapi pasukan Surjya Sen gagal di 2 target lainnya yaitu kantor klub Eropa memang berhasil direbut tetapi ternyata hari itu adalah malam Jumat Agung (malam sebelum Paskah) sehingga para pejabat Inggris tidak ada di Kantor Klub Eropa karena pergi ke gereja.

Dan ini kegagalan yang paling fatal, Pasukan Surjya Sen memang berhasil merebut gudang senjata tentara Inggris dan mengunci ruang tentara Inggris sehingga para tentara Inggris yang sedang tidur itu tidak bisa keluar untuk melakukan serangan balik.
Celakanya, gudang senjata itu hanya berisi senapan 303 dan pistol revolver tetapi tidak dengan pelurunya. Ternyata pelurunya disimpan di dalam ruang tentara Inggris sehingga tentara-tentara Inggris itu tetap bisa menggunakan senapan 303 nya untuk mendobrak pintu yang terkunci kemudian melakukan serangan balik.

Pasukan Surjya Sen yang hanya bersenjata senapan kuno musket tentu saja tidak bisa menandingi tentara Inggris yang bersenjata senapan 303 sehingga pasukan Surjya Sen terpaksa mundur dan melarikan diri ke hutan.

Keesokan paginya, tentara Inggris melakukan pengejaran di hutan. Walaupun senjatanya kalah canggih, pasukan Surjya Sen tetap tidak mau menyerah begitu saja dan melakukan perlawanan dengan gigih. Karena hutan tempat pertempuran itu bernama hutan Jalalabad maka pertempuran itu dikenang sebagai perang Jalalabad.
Pada awalnya senapan musket Pasukan Surjya Sen mampu mengimbangi senapan 303 pasukan Angkatan Darat Inggris tetapi pasukan Inggris mengeluarkan senjata yang lebih canggih yaitu senapan mesin Lewis, akibatnya banyak anak buah Surjya Sen yang gugur.
Surjya Sen dan anak buahnya yang masih hidup terpaksa melarikan diri dan mereka berhasil melarikan diri ke kota Calcutta.

Tentara dan polisi Inggris terus melakukan pengejaran ke Calcutta. Semangat juang anak buah Surjya Sen memang luar biasa, walaupun sudah dalam keadaan terkepung mereka tetap tidak mau menyerah dan melakukan perlawanan tetapi karena tentara dan polisi Inggris terlalu kuat, satu persatu mereka tertangkap atau tertembak mati. Bahkan ada beberapa anak buah Surjya Sen yang bunuh diri karena tidak tahan hidup sebagai buronan, maklum usia mereka memang masih terlalu muda untuk jadi tentara.

Tapi untung Surjya Sen sang pemimpin revolusi belum tertangkap bahkan 2 anak buahnya bisa melakukan pembalasan yaitu Pritilata berhasil meledakkan bom di Kantor Klub Eropa sehingga berhasil menewaskan banyak pejabat Inggris dan Haripada berhasil menembak mati Kepala Polisi Chittagong.
Tetapi setelah itu Pritilata bunuh diri karena pacarnya yaitu Nirmal sudah tertembak mati sedangkan Haripada tertangkap polisi Inggris.
Lebih parah lagi, Surjya Sen dan Kalpana akhirnya juga tertangkap.

Setelah melalui proses pengadilan, semua anak buah Surjya Sen yang tertangkap hidup-hidup dijatuhi hukuman seumur hidup sedangkan Surjya Sen sang pemimpin revolusi dijatuhi hukuman mati dengan digantung.

Ketika akan digantung, di tiang gantungan ada seorang tahanan yang akan digantung  bersama Surjya Sen, tahanan itu bersimpati pada perjuangan Surjya Sen sehingga sebelum digantung sempat berteriak “VANDE MATARAM”.
Surjya Sen sebelum mati digantung juga ingin berteriak “vande mataram” tetapi tidak bisa karena sebelumnya algojo Inggris melakukan penyiksaan brutal yaitu memukul gigi-gigi Surjya Sen dengan palu sampai rontok. Tidak hanya itu, semua sendi kaki dan tangan Surjya Sen juga dihantam dengan palu hingga remuk.
Surjya Sen akhirnya gugur sebagai salah satu Pahlawan India. Seandainya saja di tanggal 18 April 1930 pasukan Surjya Sen berhasil merebut senapan-senapan 303 beserta peluru-pelurunya, ceritanya pasti berbeda ya...

Opini saya tentang film ini :
Menurut saya film ini cukup bagus deh... dua jempol mungkin belum cukup untuk menilainya ya hehehe... Karena seperti biasanya film India, film ini durasinya lama yaitu 3 jam tapi film ini tidak membosankan.
Dan seperti pada biasanya film India, film ini juga dilengkapi dengan banyak nyanyian tapi untung tidak disertai dengan joget-joget kroyokan yang bikin durasi semakin lama itu, lagu-lagu hanya sebagai pengiring adegan saja. Lagu-lagunya cukup bagus lo.. terutama pada bagian akhirnya yang berjudul Vande Mataram.

Yang penting, biasanya setelah menonton film yang diangkat dari kisah nyata, saya pasti penasaran melihat wajah-wajah asli tokoh-tokohnya kemudian mencari di google tapi di film ini saya tidak perlu googling lagi karena di akhir film ini sudah ditampilkan foto-foto asli tokoh-tokohnya.
Tetapi berikut ini saya tampilkan foto-foto dari wikipedia yang mungkin bisa memperlengkap :

Foto tiang gantungan tempat Masterda Surjya Sen digantung :

Tuesday, June 21, 2011

SERDADU KUMBANG


Genre : drama
Sutradara : Ari Sihasale
Penulis :Jeremias Nyangoen
Pemeran : Ririn Ekawati,Titi Sjuman,Putu Wijaya,Asrul Dahlan,Lukman Sardi,Surya Saputra,Monica Sayangbati,Yudi Miftahudin,Leroy Osmani,Dorman Borisman,Aji Santosa,Fachri Azhari,Fanny Fadillah,Gerry Puraatmadja
Musik : Aksan Sjuman
Distributor : Alenia Pictures
Tanggal rilis : 16 Juni 2011
Durasi : 105 menit

Di Kabupaten Sumbawa Barat, tepatnya di Kecamatan Poto Tano ada sebuah desa yang cukup terpencil bernama Desa Mantar, sedemikian terpencilnya sehingga handphone sering tidak ada sinyalnya di sana.
Di desa Mantar itu, tinggal 3 anak laki-laki kelas 6 SD yang bersahabat akrab yaitu Amek, Umbe dan Acan. Ketiga anak itu sering bermain dengan mainan berbentuk kumbang sehingga mereka dijuluki Serdadu Kumbang.

Sayangnya Amek, Umbe dan Acan sering membuat ulah di sekolah mereka sehingga sering dihukum oleh guru mereka yang paling galak yaitu Pak Alim. Gaya mengajar Pak Alim yang terlalu keras itu sering dikritik oleh para orang tua murid bahkan oleh tokoh agama Desa Mantar yaitu Papin (kakek) Haji Maesa.
Dalam prestasi akademis Amek, Umbe dan Acan juga termasuk kurang bahkan Amek yang menderita cacat yaitu bibir sumbing tidak lulus tahun sebelumnya.

Walaupun bandel dan kurang pintar tetapi Amek, Umbe dan Acan punya cita-cita. Umbe dan Acan pasti dengan bangga mengatakan cita-citanya yaitu sebagai Polisi dan Kyai, hanya Amek yang malu mengatakan cita-citanya karena cita-citanya itu sangat bertentangan dengan cacat bibir sumbingnya.


Di desa Mantar ada sebuah pohon tua dan besar yang diberi nama pohon cita-cita. Mengapa diberi nama Pohon cita-cita? Hal itu karena anak-anak desa Mantar punya kebiasaan yaitu menuliskan cita-citanya di sebuah kertas dan dimasukkan botol kemudian digantung di ranting-ranting pohon besar itu dengan harapan cita-citanya tercapai.
Lagi-lagi hanya Amek yang tidak mau menggantungkan botol berisi kertas bertulis cita-cita di pohon cita-cita itu karena takut ditertawakan (Apakah sebenarnya cita-cita Amek? Nanti saja saya ceritakan, makanya baca terus artikel ini ya.. hehehe...).

Pada 3 sahabat serdadu kumbang itu, Amek memang paling bandel dan paling jelek prestasi sekolahnya tetapi ia punya kelebihan yaitu mahir menunggang kuda sehingga sering menjadi juara lomba pacuan kuda bersama kuda kesayangannya yang diberi nama Smodeng.

Amek tinggal bersama ibunya yang bernama Siti dan kakak perempuannya yang bernama Minun sedangkan ayah Amek yaitu Zakaria sudah 3 tahun bekerja sebagai TKI di Malaysia. Zakaria sangat jarang mengirim uang dari Malaysia sehingga untuk membiayai kebutuhan keluarganya, Siti berjualan makanan.
Diceritakan bahwa Amek sangat rindu dengan ayahnya sehingga pernah nekad menukar anak kambingnya dengan handphone agar bisa menelepon ayahnya. Usaha Amek itu tentu saja gagal karena Amek hanya mampu membeli pulsa perdana seharga 5000 rupiah sehingga tidak bisa menelepon ke Malaysia.

Diceritakan juga bahwa kakak Amek yaitu Minun yang duduk di kelas 3 SMP sangat berbeda dengan Amek, Minun patuh pada orang tua dan cukup pintar sehingga langganan juara kelas bahkan ia pernah juara lomba matematika sekabupaten. Seperti kebiasaan anak-anak Desa Mantar, Minun juga menggantungkan botol berisi kertas bertuliskan cita-citanya di pohon cita-cita.
Selain itu, di sekolah Amek ada seorang guru wanita yang sangat baik kepada muridnya yaitu Bu Guru Imbok.

Sebagian besar bagian awal film ini memang menceritakan kenakalan Amek dan 2 sahabatnya tetapi ada juga yang menceritakan kebaikan Amek yaitu ketika ia menolong seorang pendatang di Desa Mantar bernama Ketut yang sepeda motornya mogok.
Amek membantu Ketut dengan menarik sepeda motornya yang mogok dengan Smodeng, kuda kesayangan Amek sehingga Ketut bisa sampai di tujuan.
Sebagai balas jasa, Ketut mengajak seluruh siswa di sekolah Amek berkunjung di ssebuah sekolah dasar di kota.

Saat yang dinantikan Amek akhirnya tiba, ayah Amek yaitu Zakaria akhirnya pulang. Tetapi kedatangan ayah Amek itu ternyata membawa masalah besar karena Zakaria menjual jam Rolex yang dibelinya dari Malaysia kepada seorang penjual jam di pasar seharga 4 juta rupiah.
Ternyata jam Rolex yang dijual Zakaria palsu sehingga si penjual jam meminta Zakaria mengembalikan uangnya. Celakanya Zakaria tidak bisa mengembalikan uang 4 juta itu karena sudah dipakai untuk membayar hutang akibatnya si penjual jam membawa pergi Smodeng, kuda kesayangan Amek.

Amek tentu saja sangat sedih dan histeris melihat kuda kesayangannya yang sudah sering memberinya piala lomba balap kuda itu dibawa pergi. Untung Minun kakak Amek ternyata sangat sayang kepada Amek sehingga ia rela menebus Smodeng dengan uang tabungannya yang rencananya akan dipakai untuk biaya melanjutkan pendidikan ke SMA.

Amek kembali menemukan semangat hidupnya tetapi masalah yang lebih penting menghadang yaitu ujian nasional sudah dekat.
Untung Bu Guru Imbok berhasil memotivasi Amek dan semua siswa kelas 6 di sekolahnya untuk belajar lebih giat agar bisa lulus ujian nasional.
Bu Guru Imbok memang benar-benar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, di luar jam mengajar di sekolah, Bu Guru Imbok rela memberi pelajaran tambahan kepada siswa-siswa kelas 6 SD di Desa Mantar. Bahkan Bu guru Imbok juga mengajar membaca bagi orang-orang tua di desa Mantar yang masih buta huruf.

Sayangnya kemajuan siswa kelas 6 SD di Desa Mantar itu tidak diikuti oleh siswa kelas 3 SMP nya. Anak-anak kelas 3 SMP di Desa Mantar jarang yang mau mengikuti pelajaran tambahan dari Bu Guru Imbok.
Lebih parah lagi, anak-anak kelas 3 SMP itu dan orang tuanya agar bisa berhasil di ujian nasional malah pergi ke paranormal.

Akibatnya bisa ditebak, setelah ujian nasional selesai dan hasilnya diumumkan, semua anak kelas 3 SMP di Desa Mantar termasuk Minun tidak lulus ujian nasional.
Minun tentu saja sangat terpukul karena ia selalu menjadi juara kelas bahkan sering juara lomba matematika. Sebagai pelampiasan kekecewaannya, Minun nekad memanjat pohon cita-cta sendirian untuk mengambil kembali botol berisi kertas bertuliskan cita-cita yang dulu digantungkannya.
Malang bagi Minun, ia jatuh dari pohon cita-cita dan meninggal dunia.

Dengan kematian kakak yang sangat disayanginya, Amek tentu saja sangat sedih bahkan sampai jatuh sakit. Untung ada yang hal yang bisa menghibur Amek yaitu Smodeng, kuda kesayangannya masih ada dan pada saat itu ada lagi lomba balap kuda.
Amek langsung sembuh dari sakitnya dan mengikuti lomba balap kuda bersama Smodeng.

Ada lagi hal yang menggembirakan bagi Amek yaitu ketika hasil ujian nasional SD diumumkan, hasilnya Amek dan seluruh siswa kelas 6 SD di sekolahnya lulus.
Masih ada lagi sumber kegembiraan Amek, Bu Guru Imbok dengan dibantu Ketut bisa mengusahakan penyembuhan cacat bibir sumbing Amek dengan operasi.

Tiga bulan kemudian, bibir Amek sudah normal seperti anak-anak lainnya kemudian bersama 2 sahabatnya yaitu Umbe dan Acan ia berjanji akan belajar lebih giat untuk mencapai cita-citanya.

Pada bagian akhir film ini, Amek dan semua teman sekolahnya bersama Bu Guru Imbok merayakan keberhasilan mereka di ujian nasional dengan melepaskan kumbang-kumbang yang digantungi kertas bertuliskan cita-cita mereka.
Karena bibirnya sudah normal, Amek tidak malu lagi menuliskan cita-citanya. Ternyata cita-cita Amek adalah menjadi penyiar berita di televisi.

Opini Saya Tentang Film Ini :
Setelah saya tunggu-tunggu akhirnya muncul lagi film produksi Alenia Pictures. Saya memang selalu menunggu film produksi Alenia Pictures setelah menonton film Alenia Picture sebelumnya yaitu Tanah Air Beta yang cukup memikat itu.

Alenia Pictures adalah perusahaan film yang didirikan oleh sepasang suami istri yang juga pemain film yaitu Ari Sihasale (biasa dipanggil Ale) dan Nia Zulkarnaen. Oleh karena itulah perusahaan filmya diberi nama Alenia yang merupakan singkatan dari Ale dan Nia.
Film-film produksi Alenia Pictures selalu bertema anak-anak di daerah terpencil dan bisa membangkitkan semangat nasionalis, sangat cocok ditonton bersama keluarga.

Selamat deh.. buat mas Ale dan mbak Nia karena film ini tidak kalah bagus dengan film-film sebelumnya, saya tunggu film-film berikutnya...

Sunday, June 12, 2011

MERAH PUTIH 3 : HATI MERDEKA


Genre : action
Sutradara: Yadi Sugandi,Connor Allyn
Skenario: Connor Allyn & Rob Allyn
Pemain: Darius Sinathrya, Donny Alamsyah, Lukman Sardi, Rahayu Saraswati, T. Rifnu Wikana, Ranggani Puspandya, Asri Nurdin,Nugie
Tanggal rilis : 9 Juni 2011
Durasi : 100 menit

Film yang merupakan sekuel terakhir dari trilogi Merah Putih ini bercerita tentang keadaan Indonesia di tahun 1949 yang walaupun sudah memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1945 tapi masih terus diserang oleh pasukan Belanda yang masih ingin menjajah. Tokoh-tokoh utamanya juga masih seperti film-film pendahulunya yaitu Kapten Amir, Letnan Tomas, Letnan Dayan, Letnan Marius dan seorang pejuang wanita bernama Senja, tetapi ada sedikit perubahan yaitu Letnan Dayan menjadi bisu karena lidahnya dipotong ketika menjadi tawanan Belanda.

Pada tahun 1949 itu, pasukan Belanda di bawah pimpinan Jendral Van Mook mengepung seluruh wilayah Indonesia sehingga tentara Indonesia terjebak di Yogyakarta.
Lebih parah lagi, pasukan Belanda membentuk pasukan khusus di bawah pimpinan Kolonel Raymer yang bertugas menebar teror bagi rakyat Indonesia agar tidak berani lagi memperjuangkan kemerdekaannya.
Untuk melemahkan semangat juang rakyat Indonesia, Pasukan Kolonel Raymer tidak hanya membunuh tentara Indonesia tetapi juga membantai dan menyiksa rakyat sipil dengan sadisnya.
Kolonel Raymer inilah yang dulu juga membunuh kedua orang tua Tomas.

Untuk menghentikan kekejaman pasukan Kolonel Raymer, Amir, Tomas, Dayan, Marius dan Senja sebagai pasukan elite Jendral Sudirman ditugaskan oleh Mayor atasan mereka untuk membunuh Kolonel Raymer yang berada di Bali.
Sayang sekali, komandan tim yaitu Kapten Amir menolak tugas itu karena merasa membunuh adalah pekerjaan seorang pembunuh bukan tentara pejuang kemerdekaan sehingga akhirnya Kapten Amir mengundurkan diri sebagai tentara dan kembali menjadi guru Sekolah Dasar. Walaupun begitu, misi tetap dilanjutkan dan Tomas menggantikan tugas Amir sebagai Kapten.

Karena Tomas, Dayan, Marius dan Senja berada di Yogyakarta, mereka berangkat ke Bali dengan menyamar sebagai nelayan dan naik kapal yang diberi nama “Hati Merdeka”.
Bagaimana dengan Amir? Ternyata setelah teman-teman satu timnya berangkat ke Bali, jiwa tentara Amir bangkit kembali dan berangkat menyusul ke Bali dengan menumpang kapal nelayan.

Tetapi ketika hampir sampai di Bali, ternyata para nelayan yang menjadi awak kapal Hati Merdeka telah membelot ke pihak Belanda karena Belanda membayar lebih mahal. Nelayan-nelayan pembelot itu menyerang Tomas dan kawan-kawan dengan pedang. Tidak hanya itu, karena informasi dari nelayan-nelayan pembelot, datang kapal perang Belanda yang memerintahkan Tomas dan kawan-kawan untuk menyerah atau Kapal Hati Merdeka ditembak hingga tenggelam.

Dengan keahlian beladirinya, Tomas dan kawan-kawan bisa mengalahkan nelayan-nelayan pembelot tetapi kapal Hati Merdeka akhirnya terkena tembakan meriam kapal perang Belanda hingga tenggelam, untung Tomas dan kawan-kawan sempat meloncat ke laut.
Dengan berenang diantara tembakan-tembakan kapal perang Belanda, akhirnya Tomas dan kawan-kawan bisa sampai di Bali dan lolos dari kejaran tentara Belanda.

Sesampainya di Bali, Tomas dan kawan-kawan berhasil menolong seorang gadis Bali bernama Dayu yang akan diperkosa anak-anak buah Kolonel Raymer, tetapi keberhasilan mereka mengalahkan para anak buah Kolonel Raymer itu harus dibayar mahal karena Marius terluka parah dan hampir tewas terkena tusukan bayonet anak buah Kolonel Raymer.

Untung Tomas dan kawan-kawan bertemu dengan para tentara Bali yang bergerilya di sebuah gua dibawah pimpinan Letnan Kolonel Wayan Suta.
Terjadi kejutan karena ketika Tomas dan kawan-kawan sampai di gua tempat markas pasukan Letkol Wayan Suta, Amir sudah ada di gua itu. Ternyata dengan menumpang kapal nelayan, Amir bisa lolos dari patroli kapal perang Belanda dan sampai lebih dulu.
Sebagai Letnan Kolonel, Letkol Wayan Suta punya wewenang untuk menerima kembali Amir sebagai Kapten angkatan Darat tetapi komandan tim tetap dipegang oleh Kapten Tomas sampai misi pembunuhan kolonel Raymer selesai.

Berkat perawatan dari para petugas medis Letkol Wayan Suta, Marius bisa sembuh dari luka parahnya dan bisa bertempur lagi. Tidak hanya itu, Amir dan kawan-kawan berhasil melatih para pria Bali yang bukan tentara untuk bisa berperang sehingga bisa menambah kekuatan pasukan.

Sebagai langkah awal, pasukan Kolonel Raymer dijebak dengan cara mengirim Dayu ke markas Kolonel Raymer dan mengatakan bahwa para pejuang Bali yang disebut pasukan Belanda sebagai pemberontak itu bersembunyi di sebuah Pura.

Keesokan harinya Pasukan Kolonel Raymer langsung menyerbu Pura yang dikiranya sebagai tempat persembunyian para pejuang Bali.
Begitu sampai di Pura, pasukan Kolonel Raymer langsung dikepung dan diserbu oleh Amir, Tomas, Marius, Dayan dan pasukan Letkol Wayan Suta.

Tapi ternyata Kolonel Raymer tidaklah bodoh. Truk yang berhasil dihancurkan oleh pasukan Letkol Wayan Suta ternyata hanya berisi boneka yang memakai seragam tentara Belanda, setelah itu datang pasukan Kolonel Raymer yang sebenarnya dan ganti mengepung pasukan Indonesia.

Letkol Wayan Suta dan pasukannya kewalahan karena Kolonel Raymer mengerahkan alat perang yang tidak dipunyai pasukan Indonesia yaitu tank dan senjata penyembur api, banyak pejuang Bali yang gugur bahkan akhirnya Letkol Wayan Suta sendiri gugur.

Tetapi Amir, Tomas, Dayan, Marius dan Senja dan beberapa pejuang Bali yang masih tersisa tetap melawan dengan gigih dan datang hal yang menggembirakan yaitu datang bantuan dari rakyat Bali bukan tentara yang dilatih perang oleh Amir dan kawan-kawan.

Setelah melalui pertempuran yang seru, akhirnya pasukan Kolonel Raymer kalah dan Kolonel Raymer bisa ditangkap hidup-hidup.
Disini Kapten Tomas menampilkan jiwa besarnya, walaupun dulu kedua orang tuanya dibunuh oleh Kolonel Raymer, Tomas tidak dendam dan ganti membunuh Kolonel Raymer. Biar nanti pengadilan internasional yang akan mengadili Kolonel Raymer sebagai penjahat perang yang telah membantai banyak rakyat sipil.

Opini saya tentang film ini :
Sekuel terakhir Trilogi Merah Putih ini memang lebih seru dibanding film-film pendahulunya dan pasti menghabiskan biaya lebih banyak karena menampilkan tank dan kapal perang.

Tentang adegan actionnya, seperti film pendahulunya yaitu Darah Garuda, film ini menggunakan ahli-ahli film dari Amerika sehingga adegan actionnya terasa Hollywood sekali. Tapi istimewanya, ada adegan action yang sangat jarang ada di film action Indonesia yaitu adegan pertempuran kapal perang.

Yang lebih penting, setelah menonton film ini saya bisa merasakan betapa beratnya perjuangan para pendahulu kita untuk mendirikan negara kita ini, mereka harus rela berjuang mengorbankan apa saja bahkan nyawa mereka untuk mengusir penjajah, berikut ini saya tampilkan sedikit foto-fotonya :


Sekarang ini betapa sudah enaknya kita, sekarang kita tidak perlu lagi mengangkat senjata dan bertempur bertaruh nyawa untuk bisa mengibarkan dan memberi hormat pada bendera kita, Sang Saka Merah Putih.

Maka menurut saya, alangkah baiknya jika kita menghargai dan tidak menyia-nyiakan pengorbanan para pahlawan kita dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.
Seperti adegan yang dicontohkan pada film Hati Merdeka ini : Amir, Tomas, Dayan dan Senja walaupun berasal dari suku dan agama yang berbeda-beda, mereka bisa berdoa bersama untuk kesembuhan Marius yang terluka parah dan hampir tewas.

SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA...!!!

Tuesday, May 24, 2011

SISTERS OF WAR

Genre : drama
Sutradara : Brendan Maher
Pemain : Claire van der Boom,Sarah Snook,Susie Porter,Gerald Lepkowski,Paulini Curuenavuli,Khan Chittenden,Anna Volska
Tanggal rilis : 14 November 2010
Durasi : 95 menit

Film Australia yang diangkat dari kisah nyata ini bercerita tentang persahabatan yang mengharukan antara seorang perawat bernama Lorna Whyte dan seorang Biarawati Katolik bernama Suster Berenice Twohill.

Lorna adalah sorang perawat militer dari Angkatan Darat australia yang ditempatkan di sebuah markas militer di kota Rabaul Papua New Guinea.
Selain perawat dari Angkatan Darat Australia, di markas militer Rabaul itu juga ada beberapa perawat yang berasal dari misionaris Katolik sehingga Lorna bisa bersahabat dengan salah satu biarawatinya yaitu Suster Berenice.

Masalah timbul ketika pada bulan Januari 1942, tentara Jepang yang pada saat itu sedang kuat-kuatnya datang ke markas militer Rabaul. Tentara-tentara Australia yang bertugas di markas militer Rabaul itu ternyata ketakutan dan secara pengecut, mereka lari ke hutan meninggalkan para perawat dan para pasiennya yaitu tentara-tentara Australia yang terluka.
Para perawat tentu saja sangat ketakutan karena tentara Jepang pada Perang Dunia ke-2 terkenal dengan kekejamannya tetapi mereka hanya bisa pasrah.

Terjadilah apa yang dikuatirkan oleh para perawat, ketika tentara Jepang sampai di markas militer Rabaul, mereka menyuruh para perawat dan tentara Australia yang luka untuk berbaris dan semuanya akan ditembak mati dengan senapan mesin.

Untungnya pemimpin misionaris Katolik di markas militer Rabaul yaitu Uskup Leo Scharmach adalah orang Jerman yang merupakan sekutu Jepang pada Perang Dunia ke-2. Uskup Leo Scharmach bisa membujuk tentara Jepang untuk tidak membunuh para perawat dan tentara australia yang luka dengan “kata-kata ampuhnya” yaitu mengaku sebagai wakil Hitler dan akan melaporkan tindakan kejam tentara Jepang itu kepada Hitler.
Akhirnya tentara Jepang tidak jadi membunuh para perawat dan tentara Australia yang luka karena selain Uskup Leo Scharmach seorang Jerman, beberapa dari biarawati adalah orang Italia yang juga merupakan sekutu Jepang pada Perang Dunia ke-2.

Sejak saat itu tentara Jepang membangun markas militer Rabaul itu menjadi markas militer yang kuat bahkan lebih kuat dibanding sebelumnya sedangkan para perawat dan tentara Australia yang luka dijadikan tawanan.

Sempat ada sedikit harapan bagi para perawat dan tentara Australia ketika tiba-tiba datang pesawat tempur Amerika tetapi sayang sekali, pihak Amerika hanya tahu bahwa markas militer Rabaul itu hanya dihuni tentara Jepang sehingga mereka menembakinya tanpa ampun.
Akibatnya tidak hanya tentara Jepang yang tewas oleh serangan udara itu tetapi beberapa perawat termasuk Uskup Leo Scharmach terluka bahkan seorang biarawati tewas.
Sejak saat itu, atas usul dari Uskup Leo Scharmach, para perawat membangun tempat perlindungan dari serangan udara.

Walaupun menjadi tawanan tentara Jepang, persahabatan Lorna dan Suster Berenice semakin akrab. Bahkan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Uskup Leo Scharmach, Lorna dan Suster Berenice membantu tentara Australia yang bersembunyi di hutan dengan memberi makanan dan obat-obatan. Hal itu tentu saja sangat fatal akibatnya jika ketahuan tentara Jepang.

Tetapi persahabatan Lorna dan Suster Berenice terganggu ketika Tentara Jepang akhirnya tahu bahwa tentara Australia yang bersembunyi di hutan sering datang ke markas militer Rabaul secara diam-diam untuk mengambil bantuan makanan obat-obatan dan tentara Jepang juga berhasil menangkap tentara-tentara Australia itu.

Untung tentara Australia yang ditangkap itu walaupun disiksa habis-habisan tetap tidak mau mengaku bahwa yang memberi mereka bantuan adalah Lorna dan Suster Berenice tetapi akibatnya sangat fatal karena tentara-tentara Australia itu dipenggal kepalanya di depan para perawat dan tentara Australia yang luka, salah satu tentara Australia yang dieksekusi itu adalah pacar Lorna yaitu Leonard James Parkinson.

Lorna tentu saja sangat sedih dengan kematian kekasihnya dan berpikiran bahwa semua peristiwa tragis itu akibat Uskup Leo Scharmach yang asli Jerman itu telah berkhianat dan memihak tentara Jepang.
Lorna mengatakan kecurigaannya pada Uskup Leo Scarmach itu kepada Suster Berenice yang tentu saja tidak terima atas tuduhan Lorna kepada Uskup atasannya yang sangat dikaguminya itu. Sejak saat itulah mulai terjadi pertengkaran antara Lorna dan Suster Berenice.

Puncak pertengkaran Lorna dan Suster Berenice terjadi ketika Tentara Jepang mulai mengalami kekalahan perang melawan pasukan sekutu.
Tentara Jepang di markas militer Rabaul melampiaskan kekesalannya pada para perawat dan tentara Australia yang luka dengan memisahkan mereka. Para perawat dari Misionaris Katolik tetap berada di markas militer Rabaul sebagai tawanan sedangkan para perawat dari Angkatan Darat Australia dan para tentara Australia yang luka diserahkan kepada pihak sekutu dalam rangka pertukaran tawanan perang.
Sebelum meninggalkan Rabaul, Lorna sempat berkata pada Suster Berenice bahwa jika perang selesai, Uskup Leo Scarmach pantas dihukum gantung sebagai penjahat perang akibatnya kemarahan Suster Berenice memuncak dan ia menampar Lorna.

Kelihatannya nasib Lorna dan kawan-kawan yang diserahkan kepada pihak sekutu lebih baik daripada para Misionaris Katolik yang tetap ditawan tentara Jepang tetapi ternyata tidak. Tentara Jepang melampiaskan kekesalannya akibat mulai kalah perang dengan membantai para tentara Australia yang luka sedangkan Lorna dan para perawat lainnya tidak jadi diserahkan pada pihak sekutu tetapi ditempatkan di kota Yokohama di Jepang untuk menjalani kerja paksa.

Nasib Suster Berenice dan para misionaris lain tak kalah tragis. Karena markas militer Rabaul akhirnya hancur lebur dibombardir pesawat tempur sekutu, tentara Jepang melampiaskan kekesalannya pada para misionaris dengan membawa mereka ke tengah hutan. Di tengah hutan, tentara Jepang mulai kejam pada para misionaris bahkan mereka membunuh seorang biarawati karena kelaparan dan terpaksa mengambil makanan tentara Jepang.
Uskup Leo Scarmach berusaha mencegah perbuatan kejam tentara Jepang itu dengan “kata-kata ampuhnya” yaitu akan melaporkan pada Hitler tetapi kata-kata andalan Uskup Leo Scarmach itu tidak mempan lagi karena Hitler sudah mati bunuh diri.

Setelah berpisah dan mengalami berbagai penderitaan, Lorna dan Suster Berenice akhirnya sadar bahwa mereka benar-benar sepasang sahabat yang saling membutuhkan. Lorna dan Suster Berenice saling merindukan dan saling menulis surat walaupun mereka sadar bahwa surat itu tidak akan pernah bisa terkirim.

Bahkan Suster Berenice yang mengira Lorna sudah mati karena mendengar berita dari Uskup Leo Scarmach bahwa Lorna dan perawat-perawat lainnya terjebak di Yokohama dan Suster Berenice sendiri juga merasa akan mati karena dibunuh tentara Jepang, menyembunyikan suratnya kepada Lorna di sebuah gua dan berharap setelah perang selesai, ada orang yang menemukan surat itu dan menyerahkannya pada keluarga Lorna.

Tetapi akhirnya saat yang membahagiakan tiba, Jepang akhirnya kalah perang dan semua tawanannya termasuk Suster Berenice dan Lorna dibebaskan. Walaupun begitu, Lorna dan Suster Berenice tidak bisa langsung bertemu karena mereka dikembalikan ke tempat asalnya yaitu Lorna ke Canberra dan Suster Berenice ke Sydney, apalagi Suster Bernenice mengira bahwa Lorna sudah mati.

Baru sekitar 7 tahun kemudian yaitu di tahun 1952, Lorna punya inisiatif untuk mengirim surat kepada Uskup Leo Scarmach dan menanyakan keberadaan Suster Berenice. Akhirnya dari surat balasan Uskup Leo Scarmach, Lorna tahu bahwa Suster Berenice ada di sebuah biara di Sidney dan Lorna datang ke biara itu.

Setelah sekian tahun akhirnya Lorna bertemu lagi dengan sahabatnya, Suster Berenice. Walaupun agama mereka berbeda yaitu Suster Berenice beragama Kristen Katolik sedangkan Lorna beragama Kristen Protestan bahkan sebelum berpisah mereka sempat bertengkar dengan hebat tetapi setelah bertemu lagi, mereka bisa kembali menjadi sahabat akrab sampai mereka jadi nenek-nenek.
Itulah persahabat sejati.


Opini saya tentang film ini :
Film ini memang diangkat dari kisah nyata dan naskahnya ditulis oleh Rod Miller. Pada awalnya Rod Miller yang baru saja membeli perkebunan di Rabaul pada tahun 1991 menemukan sebuah buku harian yang ditulis oleh Grace Kruger, salah satu perawat yang ditangkap tentara Jepang di Rabaul pada tahun 1942.
Pada awalnya Rod Miller tidak begitu tertarik dengan buku harian Grace Kruger itu karena hanya berisi puisi-puisi yang tidak jelas maksudnya tetapi setelah Rod Miller mempelajarinya lebih lanjut, akhirnya Rod Miller tahu bahwa Grace Kruger sengaja menulisnya dalam bentuk yang membingungkan agar tidak mencurigakan jika ditemukan oleh tentara Jepang.
Rod Kruger menjadi tertarik dengan isi buku harian Grace Kruger itu terutama bagian yang menceritakan pengalaman Lorna White dan Suster Berenice Twohill.

Pada tahun 1997, Rod Miller melakukan wawancara langsung dengan Lorna White dan Suster Berenice Twohill sehingga jadilah naskah yang diberinya judul The Lost Women of Rabaul.
Perusahaan film ABC1 tertarik dengan naskah The Lost Women of Rabaul itu dan mulai memfilmkannya pada bulan April 2010.

Menurut saya film ini cukup layak ditonton karena jalan ceritanya tidak membosankan dan cerita nyata tentang persahabatannya cukup mengharukan.
Berikut ini saya tampilkan foto asli dari Lorna Whyte dan Suster Berenice Twohill yang sekarang tentu saja sudah memasuki usia lanjut :
(diambil dari http://www.abc.net.au)
anim-button
Untuk film animasi saya bahas di blog tersendiri, Silahkan klik button ini :
Custom Search